Selasa, 15 April 2014

Catper: Pekanbaru dan Bukittinggi




Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan keluarga yang mempunyai tujuan khusus yakni melamar calon menantu untuk adik Saya yang bertempat tinggal di Lintau Buo (Sumatera Barat). Alhamdulillah kami mendapatkan tiket promo dari Tiger Airways pada bulan Maret, langsung saja Saya booking untuk pemberangkatan bulan April, padahal kami sudah pasrah karena promo tak kunjung datang, jika dengan harga normal, bisa habis banyak hanya untuk akomodasi pesawat saja.

Jadwal penerbangan kami pukul 5.20 WIB, Kami mulai bangun pukul 2.30 inilah kali pertamanya Saya mandi dini hari, hahaha, Kami pun berangkat dari rumah pukul 3.00, kami lewati jalan yang lumayan ramai dipenuhi oleh aksi anak muda melakukan track2n motor. Saya pun bergumam, yaa ampun gini hari enakan tidur malah track2n yang mengancam nyawa…tol demi tol kami lewati dan akhirnya tepat pukul 4.20 kami sampai di Bandara Soeta. Setelah berpamitan dengan abang, istrinya dan adik Saya, Kami bergegas masuk untuk check-in. Setelah semua selesai, kami menunggu sebentar diruang tunggu dan pengumuman untuk masuk kedalam pesawat pun tiba, Tiger Airways pagi ini ontime bahkan belum waktunya kami sudah lepas landas ke udara. Bismillah dan doa tak lupa kami lafadzkan agar penerbangan ini selamat sampai tujuan yakni Pekanbaru. Shalat subuh tidak sempat kami lakukan di Musholla jadi shalat dalam pesawat pun jadi.

Alhamdulillah pukul 6.35 Kami mendarat dengan mulus di Bandara International Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Menunggu bagasi lalu berfoto sebentar sebagai kenangan kami pernah kesini, lanju perjalanan darat menggunakan mobil menuju Lintau Buo dimulai pukul 7.20. Sebelumnya kami mampir membeli buah2an di pasar Jl.Soekarno lalu sarapan lontong sayur juga soto daging. Setelah perut terisi kami pun melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah cuaca pagi ini sejuk karena habis hujan. Tengok kanan-kiri Saya memperhatikan jalan, kami melewati RS.Jiwa Tampan (begitu namanya) kami lewati Universitas Islam Pekanbaru. Mobil terus melaju dengan kencang karena memang sangat lancar, pemandangan indah tersaji sepanjang jalan, bukit-bukit menjulang tinggi, tapi bukit ini Saya rasa tidak lama lagi akan rata karena penambangan batu2annya terus di keruk, oya longsor juga sangat rawan terjadi disini.
Sekitar pukul 12, Kami melewati kelok 9, kelok yang baru diresmikan oleh Bapak Presiden SBY itu sungguh sangat kokoh, berada ditengah-tengah tebing-tebing tinggi. Sayangnya kami tak sempat turun untuk sekedar berfoto mengabadikan kami telah melewati kelok ini. Tak lama dari kelok 9 ini kami berhenti di sebuah toko penjual oleh2 khas minang, kami beristirahat sekaligus shalat dzuhur. Setelah beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan, mendekati tujuan utama kami, pemandangan lagi-lagi sangat indah, gunung Sago menjulang tinggi, dengan sangat menggoda seolah memanggil Saya untuk mendakinya suatu saat nanti, hehehe.
 

Tepat pukul 14.30 Kami sampai, sambutan hangat diberikan oleh keluarga teman adik saya. Kami pun beristirahat sambil terus berbincang dan memperkenalkan diri. Di daerah ini hamper setiap rumah memiliki halaman yang luas untuk berkebun dan mempunyai kolam ikan/empang yang bisa tiap waktu di ambil ikannya untuk dimasak..aihh sedapnyaa.   




Keesokan harinya (minggu) Saya, Ibu dan Mauwo (bibi) berjalan kaki untuk mencari sarapan, sepanjang jalan kami melihat pohon buah coklat banyak ditanam warga karena memang daerah ini terkenal dengan hasil coklatnya, harganya pun lumayan tinggi 30-40rb/kg, akhirnya kami tiba di Pasar Minggu Buo tidak jauh dari rumah, pasar di Sumatera Barat tidak selalu ada tiap hari dan kebetulan kami ada di hari yang tepat, kami pun membeli pisang kapok (pisang batu sebutan daerah Sumbar) pisang disini di hargai dengan menghitung jumlah pisang yang terdapat dalam satu sisir, 10 pisang di hargai 8rb, pisang yang kami beli terdapat 23 buah jadilah harga 21rb untuk 1 sisirnya. Kami terlalu pagi untuk bisa masuk ke pasar kaena para pedagang masih baru mempersiapkan dagangannya, niat untuk membeli biji kopi pun tidak terlaksana. Setelah membeli pisang, kami pulang ke rumah. 

Acara lamaran yang kami kira dilaksanakan pada minggu pagi sekiar pukul 10 ternyata dipending jadi malam hari. Kami bingung sampai malam hari kami ngapain, akhirnya kami putuskan untuk jalan ke Bukittinggi. Rencana menggunakan angkutan umum pun tidak jadi karena dicarikan mobil sewaan untuk keBUkittinggi, ya sudah kami jalan sekitar pukul 10. Lagi-lagi kami menikmati pemandangan yang sangat indah, gunung Sago di sebelah kiri jalan,konon katanya G. Sago ini tidak bisa di daki karena mistis yang sangat kental juga lebatnya hutan (kata supir kami), sebelah kanan bukit – bukit tinggi menjulang. Mobil masih melaju tidak lama kemudian pemandangan gunung lain pun tersaji yaitu G. Singgalang sebelah kiri dan sebelah kanan G. Merapi..kedua gunung ini bisa atau biasa di daki oleh para pencinta alam, tapi yang lebih familiar G. Merapi *kapanyahakubisakesana?

Akhirnya sekitar pukul 12, kami sampai di bukittinggi, wisata jam gadang itulah tujuan utama kami. Saya yang mempunyai orangtua asli Sumbar akhirnya kesampean menginjakkan kaki di jam gadang ini, hahaha…foto2 narsis pun kami lakukan dengan latar jam tsb. Alhamdulillah foto aku sangat maknyuzz dengan awan yang biru mentereng *loncat2kegirangan. Setelah puas berfoto kami ke pasar atas melihat2 baju dan mukena bordiran yang buagus2 dan muahal2. Mata ini tak puas jika hanya melihat, satu gamis penuh bordiran pun akhirnya terbeli untuk Ibu Saya. Selesai berbelanja, Kami shalat Dzuhur di samping pasar atas yakni Mesjid Raya Bukittinggi/ Pertamax kesini, ada yang unik menurut ku yaitu system toiletnya, toilet di masjid ini, pintu2nya hanya setengah badan dan bagian klosetnya hanya ubin keramik yang menjorok miring kebawah sehingga air pembuangan terus mengalir, bau pesing yang biasa tercium di toilet2 pun di toilet ini tidak ada alias tidak bau pesing. Ahh coba toilet2 lain bisa mencontoh system seperti ini, bisa dipastikan bau pesing pun tidak ada. Selesaishalat kami makan siang di sate padang Ma Aciak, 1 porsi 16rb, sayangnya menurut lidah kami, sate ini kurang sedap, dagingnya asam dan potongan dagingnya terlalu besar. Selesai makan, kami melanjutkan berfoto di depan gedung Bung Hatta yang berada tepat di seberang jam gadang.
Selesai bernarsis dan berbelanja, kami pun pulang melewati jalan/rute yang berbeda kali ini kami akan melewati danau Singkarak. Niatnya jika melewati jalan yang pertama, kami mau minum kopi kawa di gerageh yaitu kopi dari daun kopinya disajikan dengan batok kelapa tapi ternyata kami tidak lewat jalan ini lagi. Danau singkarak ini sangat luas, ini kali ke-2 saya melewatinya, tapi untuk kali ini Saya mengabadikan keindahan danaunya sambil membeli ikan bilih 50rb/0.5kg…asiik ikan bilih ini enak bgt. Akhirnya kami sampai rumah pukul 18, Kami pun bersiap diri untuk acara inti juga shalat maghrib.



Tepat pukul 19.20, Kami memulai acara, acara pertama jika di Sumatera di buka dengan makan, karena malam hari yasudah makan malam, berbagai menu tersedia, ada rendang, gulai ikan, sambalado teri dsb semua khas minang. Tidak lama setelah makan barulah acara inti dimulai dengan pembukaan dari perwakilan tuan rumah, memperkenalkan diri dan semua keluarga yang hadir dan menanyakan maksud kedatangan kami. Ayah Saya pun menjawab maksud kedatangan juga memperkenalkan keluarga yang dibawa. Bahas membahas, adat bagaimana, KUA disana bagaimana dsb, Alhamdulillah semua selesai dengan lancar, di akhiri dengan foto bersama. 

Esok harinya, Ibu dan Mauwo saya pulang duluan sekitar jam 6 menuju kampung halaman kami yaitu Tiku dan Muaro Putus karena ada keperluan jadi tidak pulang bareng aku, ayah dan adik. Sisanya Saya, Ayah, adik n temannya pulang untuk kembali ke Jakarta sekitar pukul 8. Kami berpamitan, lalu rencana tujuan kami adalah mengunjungi Istana Baso Pagaruyung, istana ini baru selesai di rehab karena habis terbakar akibat petir menyambar. Sedikit Saya jelaskan sejarah tentang istana ini Istana ini terletak di Batusangkar, kabupaten Tanah Datar. Dari sumber tambo, nagari ini dulunya adalah merupakan ibu kota dari kerajaan Pagaruyung.

Sejak tahun 2001 Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Datar telah memulai untuk melakukan pemindahan secara bertahap pusat pemerintahan dari Batusangkar ke Pagaruyung. Dimana program ini dimulai dengan mendirikan kantor Bupati di kawasan nagari ini.

Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.
Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.

Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.

Pada tanggal 27 Februari 2007, Istano Basa mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan.. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.
Sementara itu, biaya pendirian kembali istana ini diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar     
Istano Basa Pagaruyung yang dibangun kembali tahun 1976 merupakan duplikat bangunan Istano Rajo Alam Minangkabau yang dibakar Belanda tahun  1804. Bangunan ini terdiri dari 11 gonjong, 72 tonggak dan 3 lantai.  Objek wisata ini dilengkapi dengan surau, tabuah  Rangkiang Patah Sambilan,  serta fisik bangunan Istano Basa Pagaruyung dilengkapi dengan beragam ukiran yang tiap-tiap bentuk dan warna ukiran  mempunyai falsafah, sejarah dan budaya Minangkabau.
Terletak di Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas  yang merupakan pusat Perintahan Kabupaten Tanah Datar,  + 5 km dari kota Batusangkar dan mudah dijangkau oleh sarana transportasi roda 2 dan roda 4

 
Sampai di Istana sekitar pukul 9.10 kami membeli tiket dewasa 7rb/org. 
Aihh senangnya akhirnya Saya datang juga kesini, ngidam ketempat ini sudah lama, foto2 narsis pun dimulai, oya ada gunung yang setia menjadi teman setia di sekitar istana ini. 
 
Sayangnya jika pagi hari matahari berada di belakang istana, alhasil jika berfoto ria hasilnya backlight. Disarankan jika ingin kesini, sore hari lha waktu yang tepat, InsyaAllah bisa mendapatkan hasil foto yang maknyuss dengan lata awan yang biru menjulang. Selesai foto di luar kami memasuki istana, aihh isinya indah dengan segala bentuk kerajinan kain, ukiran kayu  juga pedang2 dsb. Ada jasa memakai pakaian adat seharga 35rb/pakaian lengkap dengan sunting kepala tetapi kami menolak dengan alasan kami hanya sebentar disini. Foto2 lagi didalam istana dengan berbagai gaya.

Selesai dari istana sekitar pukul 9.50 kami melanjutkan perjalananmenuju Pekanbaru, kami melewati lagi kelok 9 dan kali ini saya meminta ke supir untuk berhenti sebentar untuk mengabadikan diri berfoto dengan latar tsb. Dipinggir2 jalan dibagian atas kelok 9 ini terdapat beberapa penjual minuman juga jagung bakar.
Foto2 selesai lanjut lagi jalan, mobil melaju kencang walaupun jalan berkelok-kelok. Waktu Dzuhur telah tiba juga perut minta diisi akhirnya kami pun beristirahat di sebuah rumah makan padang, menu khas minang tersaji tapi menu soto daging yang aku pesan untuk menghangatkan perut agar tidak mual karna jalan berkelok tadi.

                                                                      Selesai makan, lanjut lagi perjalanan melewati tebing-tebing batu lagi, penambangan batu terus berjalan, aku sempat memoto tebing2 tsb. Aiih akhirnya sekitar pukul 16 kami tiba di Pekanbaru karna waktu checkin masih lama, kami memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah ibu teman kostnya teman adik aku. Lalu aku n tata (nama tmn adikku) pergi belanja ke pasar bawah disini pusatnya oleh2 ada lempok (dodol durian) dan berbagai snack dan minuman khas Malaysia. Hampir semua snack yang made in Malaysia, oya tak lupa kami membeli ikan salai ikan khas asli Pekanbaru. Setelah selesai semua, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke bandara. Sampai di bandara sebelum waktu maghrib, kami disuguhi dengan sunset yang sangat indah, Saya sempat memotonya dari balik kaca. Pukul 19.13 kami mulai terbang lagi dengan TigerAirways, jadwal ini jauh lebih cepat dari jadwal yang seharusnya 19.25. Bismillah dan doa kami ucapkan agar penerbangan ini selamat sampai Bandara Soeta. Alhamdulillah pukul 20.30 kami mendarat dengan selamat setelah beberapa kali awak pesawat mengumumkan cuaca sedang tidak bersahabat. Lanjut dengan damri menuju pasar minggu dan dilanjutkan menggunakan krl commuterline, sampai rumah pukul 00.
Ahhh Alhamdulillah semua selamat sampai rumah, acara berjalan lancar dan ngidam aku untuk ke Jam gadang, istana pagaruyung juga kelok 9 sudah tercapai. Semoga perjalanan ini diberkahi Allah. Aamiin
Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau Dustai (Pemandangan SumBar sangat-sangat indah)
Sumber:http://kota-batusangkar.blogspot.com/2013/03/wisata-sejarah-budaya-istana-pagaruyung.html

Oya, Saya sempat membuat sketsanya untuk Jam Gadang dan Rangkiang



                                             
Trip to Pekanbaru dan Bukittinggi 5-7 April 2014
                                                 Citayam, 9 April 2014, 17.54 (Bertepatan dengan Pemilu Caleg 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar