Jumat, 20 Juni 2014

Untukmu

Hati tertaut...meski tak tegur sapa dalam sunyi tetap saling mendoakan 
Teruntuk mu yang selalu ada dalam tiap doa ku.

Mari kita terus #kerjacerdas untuk segera mewujudkan impian kita menjadi kenyataan.

Rencana Hidup

Hidup dengan berbagai rencana dan bisa lebih terarah itu lebih baik dibandingkan hidup dengan filosofis mengikuti arus air yang mengalir karena bisa menjadi penyemangat termotivasi akan target2 yang telah di impikan.

So mari #kerjacerdas untuk target yang hendak di capai. Urusan berhasil atau tidak serahkan pada Yang Kuasa.

*morningfrens
Jumat berkah, 20/6/2014

Rabu, 18 Juni 2014

Doa untuk Dolly & Jarak

Tanpa disadari oleh ku, air mata ini meleleh tak kuat lagi berada di kelopak mata ini
Berita demi berita yang sudah dibaca membuat badan ku merinding

Ya Rabb, Sebegitunya pembelaan para oknum/orang2 bertekad menolak penutupan Dolly dan Jarak
Apakah mereka sadar melakukan hal tsb?
Apakah mereka tau yang mereka bela adalah Perzinahan
Mereka Takut miskin Ya Ghaniy (Maha Kaya), mereka semua sudah lupa akan keberadaan Engkau Sang Maha Kaya

Mata, Hati, Otak mereka sudah ditutupi oleh lingkaran syetan yang sudah mendarah daging, yaaa mendarah daging dari hasil usaha Haram.
Mereka mungkin sudah tidak peduli akan keberadaan-MU, Wahai Sang Maha Pemimpin dan Permberi Petunjuk (Al Hadi),
Semoga mereka semua segera mendapat hidayah-MU, Karna Engkau adalah Sang Maha Pengampun (Al Afuw, Al Ghaffar), Siapapun yang bertobat akan di ampuni, InsyaAllah

*Penutupan Dolly n Jarak, 18 Juni 2014

Selasa, 10 Juni 2014

Mesranya Rasullah...........

‘Mesranya Rasulullah…’ Ayo Ikuti !

Bismillahirrahmanirrahim.
Bermesraan  adalah upaya  dari  suami  isteri  untuk  menunjukkan  kasih sayang ,  Rasulullah saw pun  merasakan  pentingnya  bermesraan  dengan Isteri , sehingga  beliaupun  menghias  hari-hari dalam  keluarga ( Isteri )penuh  dengan kemesraan . hal  tersebut  tercermin  dalam  hadits-hadits seperti  dibawah  ini :
1.   Tidur  dalam  satu  selimut  bersama  isteri :
Dari  Atha bin Yasar. “  Sesungguhnya  Rasulullah saw  dan  ‘Aisyah ra biasa  mandi  bersama  dalam  satu  bejana. Ketika  beliau  sedang  berada dalam  satu  selimut dengan  ‘Aisyah , tiba-tiba  ‘Aisyah bangkit.  Beliau kemudian  bertanya “ mengapa  engkau  bangkit ?”  ‘Aisyah  menjawab “ Karena  aku  sedang  Haidh, wahai  Rasulullah .  Kemudian  Rasulullah berkata “ Kalau  begitu, pergilah,  lalu  berkainlah  dan  dekatlah  kembali denganku” Akupun  masuk  lalu  berselimut  bersama  beliau.”  (  HR  Sa’id bin  Manshur  )
2. Mandi  bersama  Isteri.
Dari  ‘Aisyah ra , ia  berkata. “ Aku  biasa  mandi  bersama  Rasulullah dengan  satu  bejana.  Kami  biasa  bersama-sama  memasukkan  tangan kami ( kedalam bejana)”  (  HR. ‘Abdurrazaq  dan  Ibnu  Abu Syaibah )
3. Memberi  wangi-wangian  pada  aurat .
‘Aisyah  berkata, “ Sesungguhnya  Nabi  saw  apabila  meminyaki  badannya beliau  memulai  dari auatnya  dan  mengolesinya  dengan  nurah ( sejenis bubuk  pewangi ),  dan  isterinya  meminyaki  bagian lain  seluruh tubuhnya.”  ( HR  Ibnu Majah )
4. Disisir  Isteri .
Dari ‘Aisyah ra  ia  berkata. “ Aku  biasa  menyisir  rambut  Rasulullah saw , saat  itu  aku  sedang  haidh “.  ( HR.Ahmad )
5. Meminta  isteri  meminyaki  badannya.
Dari  ‘Aisyah  ra , ia  berkata , “ Saya  meminyaki  badan  Rasulullah saw pada  hari  raya ‘Idul Adha  setelah  beliau  melakukan jumrah ‘aqabah .”  ( HR Ibnu ‘Asakir )
6. Minum  bergantian  pada  tempat  yang  sama.
Dari  ‘Aisyah  dia  berkata ,” Saya  biasa  minum  dari  mud  yang  sama ketika  haidh,  lalu  Rasulullah  mengambil  mud  tersebut  dan  meletakkan kemulutnya  ditempat  saya  meletakkan  mulut  saya,  lalu  beliau  minum, kemudian  saya  mengambil  mud, lalu  saya  menghirup  isinya,  kemudian beliau  mengambil  dari  saya , lalu  beliau  meletakkan  mulutnya  pada tempat  saya  meletakkan  mulut  saya , lalu  beliaupun  menghirupnya.”  ( HR.’Abdurrazaq  dan Sa’id  bin  Manshur ).
7. Membelai  isteri .
Dari  ‘Aisyah ra , “ Adalah  Rasulullah saw  tidaklah  setiap  hari  melainkan beliau  mesti  mengelilingi  kami isterinya  seorang demi  seorang.  Beliau menghampiri  dan  membelai  kami  dengan  tidak  mencampuri  kami hingga  beliau  singgah  ketempat  isteri  yang  beliau  giliri  waktunya , lalu beliau  bermalam  ditempatnya.”  ( HR. Ahmad )
8. Mencium  isteri
Dari  ‘Aisyah ra , “ bahwa  Rasulullah  saw  biasa  mencium isterinya setelah  wudhu’  kemudian  beliau  sholat  dan  tidak  mengulangi wudhu’nya”  ( HR.’Abdurrazaq ).
Dari  Hafshah, puteri  ‘Umar ra “ sesungguhnya  Rasulullah saw  biasa mencium  isterinya  sekalipun  sedang  puasa.” HR.Ahmad .
9. Tiduran  dipangkuan  isteri
Dari ‘Aisyah ra ia  berkata, “ Rasulullah saw  biasa  meletakkan  kepalanya dipangkuanku  walaupun  aku  sedang  haidh, kemudian  beliau  membaca Al-Qu’an.” ( H ‘Abdurrazaq )
10.Memanggil dengan  kata-kata  mesra.
Rasululah saw  biasa  memanggil “aisyah  dengan  beberapa  nama  panggilan yang  disukainya,  seperti ‘Aisy  dan Humaira ( pipi merah delima )
11.Mendinginkan kemarahan  isteri  dengan  mesra.
Rasulullah saw  biasa  memijit  hidung ‘Aisyah  jika  ia  sedang  marah  dan beliau  berkata, “ Wahai ‘Uwaisy, bacalah  do’a “ Wahai  Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah  dosa-dosaku, hilangkanlah  kekerasan  hatiku , dan lindungilah  diiku  dari fitnah  yang  menyesatkan.”  ( HR. Ibnu Sunni )
12.  Bermesraan  walau isteri  Haidh
Dari ‘Aisyah a , ia  berkata ,” Saya  biasa  mandi  bersama  Rasulullah saw dengan  satu  bejana, padahal  kami  sama-sama dalam  keadaan junub.  Aku biasa  menyisir  rambut  Rasulullah  ketika  beliau  menjalani I’tikaf  di masjid dan aku  sedang  haidh.  Beliau  biasa  menyuruh  aku  menggunakan  kain ketika  aku  sedang  haidh , lalu  beliau  bermesraan  denganku.” ( HR.’Abdurrazaq  dan  Ibnu Abi Syaibah )
13. Membersihkan  tetesan  darah  haidh  isteri
Dari ‘Aisyah ra , ia  berkata , “ Aku  penah  tidur  bersama  Rasulullah saw diatas satu  tikar  ketika  aku  sedang  haidh.  Bila  darahku  menetes  ketikar  itu, beliau memcucinya  dibagian  yang  terkena  tetesan  darah  dan  beliau  tidak berpindah  dari  tempat  itu,  kemudian  beliau  sholat  ditempat  itu  pula, lalu beliau  berbaring kembali  di sisiku.  Bila  darahku  menetes  lagi  ketikar itu, beliau  mencuci  dibagian  yang  terkena  darah  itu  dan  tidak  berpindah  dari tempat  itu , kemudian  beliaupun  sholat  diatas  tikar  itu “   ( HR. Nasa’i )
14.  Memberi  hadiah .
Dari  Ummu Kaltsum  binti  Abu Salamah , ia  berkata ,” Ketika  Nabi saw menikah  dengan  Ummu Salamah  beliau  bersabda  kepadanya , “ Sesungguhnya  aku  pernah  hendak  memberi hadiah kepada   Raja  Najasyi sebuah  pakaian  berenda  dan beberapa  botol minyak  kasturi , namun  aku mengetahui  bahwa  ternyata  Raja  Najasyi  telah  meninggal  dunia  dan  aku mengira  hadiah  itu  akan  dikembalikan, Jika  hadiah  itu dikembalikan kepadaku , aku  akan  memberikannya  kepadamu.” Ummu Kultsum  berkata,” Ternyata  keadaan  Raja Najasyi  seperti  yang  disabdakan  Rasulullah saw  dan hadiah itu  dikembalikan  kepada  beliau,  lalu  beliau  memberikan  kepada masing-masing  isterinya  satu botol  minyak  kasturi , sedang  sisa  minyakkasturi  dan  pakaian  tersebut  beliau berikan  kepada  Ummu Salamah.”  ( HR .Ahmad )
15.  Segara  menemui  isteri  jika  tergoda .              
 Dari  Jabir , sesungguhnya  Rasulullah saw  pernah  melihat  wanita, lalu  beliau masuk  ketempat  Zainab, lalu  beliau  tumpahkan  keinginan  beliau  kepadanya , lalu  keluar  dan  bersabda. “ Wanita  kalau  menghadap , ia  menghadap  dalam rupa  setan ( menggoda ) . . . bila  seseorang  diantara  kamu  melihat  seorang wanita  yang  menarik,  hendaklah  ia  datangi  isterinya , karena  pada  isteri ada  hal  yang  sama  dengan  yang  ada  pada  wanita  itu.”  ( HR.Tirmidzi )
Demikianlah  indahnya  kemesraan  Rasulullah  kepada  isterinya ,  moga  dapat jadi  teladan  bagi  membina  kasih  sayang  antara  suami – isteri . . . selamat mencuba  dan semoga kita dpt membina hubungan keluarga yg sakinah,mawaddah wa rahmah  serta dikurniakan zuriat yg soleh dan solehah.
Aisyah M Yusuf
 

Kamis, 05 Juni 2014

Agar Pernikahan Membawa Berkah


Materi ini saya dapatkan dari murobbiyah saya, pada saat saya halaqoh, judulnya ketika disampaikan waktu itu adalah “Agar Pernikahan Membawa Berkah”. Judulnya subhanallah banget yah. Yang belum menikah pasti penasaran dehh apa aja sihhh langkah-langkah menuju pernikahan membawa berkah itu. Yuk disimak catatan ringkasan saya ini. Ternyata ada tujuh point terpenting yang mesti kita pahami kawan, diantaranya yaitu:
Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)
Benerlah siapa yang ingin menikah maka luruskan niat kita dulu. Niat menikah tentunya karena Allah SWT karena menikah adalah ibadah. Karena menikah juga merupakan perintahNya. Coba kawan dicek dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 32. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kaurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur : 32).
Oya nikah juga merupakan sunah Nabi, jadi dalam proses nikah hingga pasca pernikahan nanti kita wajib mencontoh Nabi. Contohnya ketika diawal memilih pasangan hidup menurut Nabi hendaknya yang dipilih adalah agamanya, kemudian pada saat walimatul ursy sebaiknya tidak berlebihan karena kita tahu Nabi mengajarkan kita untuk selalu bersikap hidup sederhana (tidak boros) dan dalam berumah tangga hendaknya kita membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Begitu kawan. Setuju yah.
Sikap Saling terbuka (Mushorohah)
Sikap saling terbuka disini yang saya pahami adalah ketika sudah menjadi suami dan istri maka hal–hal yang sebelumnya haram menjadi halal. Misalnya secara fisik kita sudah halal untuk bersentuhan. Selain itu juga sikap saling keterbukaan ini dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) diantara suami dan istri karena adanya rasa keinginan saling mengenal satu dengan yang lainnya entah itu sifat kepribadian, kebiasaan, kesenangan, ketidaksukaan sehingga suami/istri merasa nyaman.
Sikap toleran (Tasamuh)
Sudah pasti ketika berumah tangga suami dan istri memiliki kebiasaan, pemikiran yang berbeda-beda sehingga akan timbul konflik/perdebatan dalam rumah tangga. Sehingga sikap toleran ini sangat penting bagi kehidupan suami istri untuk memujudkan keluarga yang tetap harmonis. Dan dalam hal ini sikap toleran juga menuntut adanya sikap saling memaafkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al Afwu yaitu memaafkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu memaafkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfiroh yaitu memintakan ampun pada Allah untuk oran lain.


Komunikasi
Komunikasi ini sangat penting karena dengan komunikasi katanya akan meningkatkan sikap saling cinta antar pasangan. Komunikasi juga untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Karena saya juga melihat beberapa keluarga yang tetap harmonis kuncinya adalah komunikasi yang tetap terjaga dan tidak pernah putus hmm. Apalagi bagi suami dan istri yang memiliki kesibukan masing-masing, sehingga dengan komunikasi ini memberikan rasa perhatian, saling mendengar, dan memberikan respon. Zaman sekarang komunikasi sudah cukup canggih bisa via telephone, email, whats app, skype, dan sebagainya.
Oya point komunikasi ini bisa mengingatkan kita kepada kisah keluaraga Ibrahim As. Dalam surah As-Shaaffat ayat 102. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaaffat: 102).
Ibroh yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah komunikasi timbal balik antara orang tua dengan anak. Nabi Ibrahim mengutarakan pendapatnya dengan bahasa dialog bukan menetapkan keputusannya sendiri, sehingga adanya keyakinan yang kuat kepada Allah, adanya tunduk dan patuh atas perintah Allah dan adanya tawakal kepada Allah SWT, sehingga Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.

Sabar dan syukur
Yah, sabar dan syukur dalam berumah tangga memang sangat dianjurkan. Pasalnya setiap ujian dalam berumah tangga harus disikapi dengan rasa sabar seperti pada pasangan suami/istri terdapat kekurangan/kelemahan sehingga perlu disikapinya dengan sabar. Kemudian disikapi rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada suami dan tidak banyak menuntut khusus untuk istri karena kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan istri yang kurang bersyukur terhadap pemberian suaminya. Dan apabila kita bersyukur maka Allah akan melebihkan nikmatNya lagi untuk kita. Bisa dilihat dalam firman Allah surah Ibrahim ayat 7: “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” (QS.Ibrahim : 7).

Sikap yang santun dan bijak
Sikap santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam berinteraksi kehidupan berumah tangga ini perlu dilakukan karena akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Sehingga suasana ini membuat penghuni rumah betah tinggal di rumah. Sebagaimana ungkapan bahwa “Rumahku adalah Syurgaku” bukan berarti fasilitas yang lengkap dan rumah tinggal yang luas akan tetapi ada suasana interaktif antar keluarga; suami istri dan anak-anak yang penuh kesantunan dan bijaksana. Sehingga menimbulkan suasana yang penuh keakraban, kedamaian, dan cinta kasih antar keluarga.
Oya sikap santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seorang itu labil maka ada kecenderungan bersikap emosional dan marah, karena syetan akan mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita agar jangan mudah marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah maka bersegeralah menahan diri dengan beristighfar dan mohon perlindungan kepada Allah dengan (taawudz billah), bila masih merasa marah maka hendaknya berwudhu dan mendirikan sholat. Karena sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi. Oleh sebab itu dalam berumah tangga harus ada saling memaafkan bila terjadi kemarahan dan Allah menyukai orang yang suka memaafkan.

Kuatnya hubungan dengan Allah
Sudah pasti kalau kita menginginkan rumah tangga yang tetap harmonis, hubungan kita dengan Allah harus diperkuat, karena dengan begitu akan menghasilkan keteguhan hati (kemampanan ruhiyah), sebagaimana dalam firman Allah disurah Ar-Rad’u ayat 28 “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Rad’u : 28)
Rasulullah SAW juga selalu memanjatkan doa agar mendapatkkan keteguhan hati : Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thooatika” (Wahai yang membolak-bailikan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’atiMu).
Kedekatan kita dengan Allah bisa dimulai dengan membiasakan dalam keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap seperti tilawah, shaum, tahajud, Duha, doa, infaq, doa, matsurat, dan sebagainnya. Karena tanpa adanya kedekatan dengan Allah mustahil seseorang dapat mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Finish. Semoga ringkasan saya ini memberikan banyak manfaat terutama bagi yang akan menikah atau yang sudah menikah juga, hehe.
Syukron.
Bogor,
Catatan Alzena Valdis Rahayu

Sumber: http://www.eramuslim.com/pendidikan-keluarga/keluarga-pk/agar-pernikahan-membawa-berkah.htm#.U5AR84UZfqu

Usia Istri Lebih Tua Bukan Penghalang Keharmonisan

Terimakasih untuk Seseorang yang telah memberikan link artikel ini.
Smoga dimudah n lancarkan rencana menjalani Sunnah Rasul ini.
Aamiin :)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Resepnya bisa dilihat dari kehidupan berumahtangga Rasulullah SAW dengan Siti Khadijah
Apa hikmah ditakdirkannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) beristrikan Siti Khadijah Radhiyallahu ‘anha (RA) yang usianya lebih tua 15 tahun? Di saat itu usia Muhammad SAW baru 25 tahun, sementara Siti Khadijah sudah 40 tahun. Dengan perbedaan usia tersebut, jika ini terjadi sekarang, bukan di dalam rumah tangga Rasulullah SAW, belum tentu keluarga tersebut bisa seharmonis rumah tangga beliau.
Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) telah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin dalam rumahtangga. Lazimnya kita dapati bahwa sang pemimpin adalah mereka yang usianya lebih matang daripada bawahannya. Namun kenyataannya, Rasulullah SAW telah membalik pendapat tersebut dan telah membuktikan bahwa kematangan dan kedewasaan kepribadian, tidaklah selalu identik dengan usia yang lebih tua.
Menarik sekali teladan yang telah ditunjukkan oleh pasangan mulia Rasulullah SAW dan Siti Khadijah yang telah berhasil mengantar rumah tangga mereka menjadi contoh teladan keluarga pejuang yang harmonis. Tentu tak mudah untuk bisa sampai ke tingkatan tersebut, karena istri dengan usia lebih tua dari suami memiliki kecenderungan untuk lebih dominan daripada suaminya. Nah, bagaimana agar hal ini tidak terjadi, baiklah kita teladani apa yang dicontohkan oleh pasangan mulia tersebut.
Kepribadian Suami yang Kuat
Allah SWT menakdirkan kedewasaan kepada pemuda Muhammad lebih cepat dibandingkan pemuda-pemuda lain seusianya. Jika pemuda lain pada usia tersebut banyak yang masih bersenang-senang dengan kekayaan dan perempuan, Muhammad justru semenjak kecil telah ditumbuhkan Allah SWT dalam kondisi terjaga dari kemaksiatan.
Di saat teman-teman seusianya masih bermanja-manja dengan ibunya, ia sudah harus kehilangan ibu yang dicintainya, di usia 6 tahun. Belum lagi meninggalnya sang kakek, Abdul Muththalib yang mengurusnya selama dua tahun. Sungguh sebuah ujian yang berat.
Semenjak kecil Muhammad SAW sudah mulai ikut berdagang dan menggembala domba untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan keras yang harus dijalani semenjak kecil ini menempa pribadi Muhammad lebih cepat dewasa dibandingkan anak lain. Ia tumbuh menjadi pemuda yang ulet, berjiwa pemimpin, suka bekerja keras, jujur, amanah, dan suka berbuat untuk orang lain.
Nah, jika laki-laki bisa sedewasa ini, maka tak menjadi persoalan berapapun usia istrinya, ia akan tetap bisa menyikapi dengan bijak, berkat kematangan kepribadiannya. Begitu pun juga Khadijah, seorang janda kaya yang terbiasa mengurus dirinya sendiri. Ia juga pengusaha yang menjalankan sendiri kepemimpinan dalam usahanya tersebut terhadap puluhan anak buahnya.
Hal seperti ini membuat seorang istri memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih dominan dibanding suaminya. Namun ini tidak terjadi, karena Muhammad SAW sebagai suaminya, ternyata bisa mengimbangi dominasi istrinya tersebut, dan mampu tampil menjadi pemimpin yang memimpin istrinya dengan bijak.
Ketaatan Istri
Jika tidak ada ketaatan istri, hancurlah keluarga ini. Karena usia istri yang jauh lebih tua, posisinya sebagai pengusaha kaya dan memiliki banyak anak buah, tentu dalam kesehariannya pun terbiasa memimpin mereka. Namun begitu ikatan pernikahan disahkan, dengan ikhlas Khadijah meletakkan seluruh kehebatannya tersebut. Dominasinya pun ia lepaskan. Ketaatan kepada suami pun ia tumbuhkan. Bahkan untuk membuktikan ketaatannya tersebut, ia serahkan pengelolaan seluruh usahanya tersebut kepada suaminya.

Hal ini menjadi pembelajaran menarik bagi para perempuan pada jaman sekarang. Banyak kaum perempuan yang saat ini memiliki posisi seperti Khadijah, dengan kekayaan yang melebihi suami. Memiliki pekerjaan yang lebih baik gajinya daripada gaji suami, bahkan memiliki perusahaan dengan banyak karyawan di bawahnya, sehingga ia terbiasa hidup dengan dominasi kepemimpinan terhadap orang lain. Umumnya, kondisi seperti ini akan memberikan kecenderungan istri menjadi lebih dominan daripada suami.
Namun hebatnya, hal ini tidak terjadi kepada Khadijah. Dia tidak menjadi sombong dengan perusahaannya dan kematangan usianya dibanding suaminya. Begitu menikah, bahkan ia serahkan pengelolaan perusahaannya kepada suaminya. Ia rela berada dalam kepemimpinan suaminya, mentaati keputusan dan kebijakan yang diambil, dan menomorduakan pendapatnya sendiri.
Jika istri menyombongkan posisi dan merendahkan suami, itulah pangkal dari ketidakharmonisan keluarga. Karena selanjutnya, kelemahan dan kesalahan suami akan dibesar-besarkan, sementara kelebihan suami tak diakuinya karena merasa dirinya sudah lebih berprestasi.
Istri Cerdas Emosi
Istri yang cerdas emosi adalah istri yang memahami bahwa suamilah pemimpin terbaik yang sudah dipilih Allah SWT. Maka, walaupun dalam kepemimpinan suaminya terdapat kekurangan-kekurangan, ia tidak menyalahkan dan merendahkan begitu saja, namun tetap mampu menghargainya.
Ketika berbeda pendapat tentang pemilihan sekolah anak, misalnya, istri yang memiliki kecerdasan emosi mencoba berpendapat tanpa menyalahkan pendapat suaminya. Ia bisa mengeluarkan pendapat, “Betul, sekolah pilihan ayah itu memang memiliki fasilitas yang bagus, jauh lebih bagus dari sekolah lain. Tapi, anak kita ini sifatnya sulit adaptasi, lho. Ia lebih butuh guru yang bisa memahami sifatnya daripada sekadar fasilitas lengkap kan. Bagaimana kalau kita coba lihat sekolah yang satu lagi, sepertinya guru-gurunya lebih bagus daripada guru sekolah lain.”
Istri yang cerdas emosi akan faham, bahwa suaminya butuh dukungan dan pengakuan sebagai pemimpin. Maka walaupun gaji serta posisi istri di tempat kerja lebih tinggi, ia tetap senantiasa menomorsatukan pendapat suaminya. Sebagai bukti pengakuan, maka ia akan berkomitmen untuk mentaati sebagian besar keinginan dan perintah suami, khususnya untuk hal-hal kecil yang tak perlu diperdebatkan.
Masalah pemilihan dan penempatan perabot, masalah selera masakan, keinginan suami agar istri memanjangkan rambutnya, hingga pengaturan jadwal waktu kegiatan harian. Misalnya, walaupun istri kurang sependapat namun ia rela mentaati pendapat suaminya. Tetapi untuk beberapa hal yang ia anggap penting, barulah ia akan mencoba untuk berpendapat, itupun tetap dengan komunikasi yang tidak menyalahkan.
Salah satu konsep komunikasi antara pemimpin dengan rakyatnya, difirmankan Allah dalam al-Qur`an surat al- Hujuraat ayat 2:
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya degan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”
Istri yang cerdas, akan memahami bahwa aturan-aturan yang harus dipatuhi istri terhadap suaminya seperti ayat di atas. Ayat tersebut bukan merupakan pelecehan atau diskriminasi gender, tetapi sebagai aplikasi dari pemahaman perbedaan karakter laki-laki dan perempuan. *Irawati Istadi, penulis buku-buku parenting. SUARA HIDAYATULLAH MARET 2012

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com/?p=3324

Rabu, 04 Juni 2014

ikhitiar

Memulai dengan pertanyaan2...

Semua jawaban dan proses harus di hadapi dengan IKHLAS, lanjut Kuasa Allah yang berperan, Manusia.hanya berencana.

Bismillah

--------------------------------------------------------------------------------
Tangisan haru itu hanya setetes dua tetes..tapi dalam terasa.

Bismillah saja, sekali lagi manusia berencana tetap Allah pembuat keputusan.

*senyuuum manis  

                                                                                                        Citayam, 6 Mei 2014